Buntu..

satu kata itu yang saat ini terlintas. Buntu. Iya, buntu. Benar-benar gak ada ide.
mau nulis apa. enaknya nulis apa dan gimana. benar-benar dalam status stagnasi.gak merasakan lagi hal yang luar biasa dalam kehidupan saya akhir-akhir ini.
ketika ide muncul, seketika itu pula dengan cepatnya ide itu menghilang.
mungkin efek kebosanan yang saya rasakan akhir-akhir ini. kehidupan saya di sini benar-benar membisankan. gak ada sesuatu yang istimewa satya alami.
hanya bangun di pagi hari, mandi, berangkat kuliah, kuliah sehari penuh, pulang kuliah, mandi, tidur. Gak ada sesuatu yang istimewa di sini.
perjalanan liburan ke luar kota pun gak senyaman seperti dulu-dulu. Dulu saat semuanya masih dipenuhi hawa kebebasan.
masih teringat dengan jelas di benak saya bagaimana serunya perjalanan ke Pantai Siung di Gunung Kidul saat memperingati tahun baru bersama teman-teman saya.
Gimana lelahnya perjalanan dari Solo menuju daerah Pacitan ke Pantai Klayar yang masih murni dan jernih. Pengalaman seru camping di pinggir pantainya, mencuri ketela dari kebun sekitar pantai, menyalakan api unggun, bernyanyi bersama samapai pagi.
Bahkan kebiasaan ke Tawanmangu untuk sekedar acara organisasi atau makrab saja terasa lebih berkesan daripada perjalanan-perjalanan yang saya lakukan di sini.
Kemudian juga saya berpikir bahwa kebiasaan saya yang duduk-duduk di pinggir jalan, ngobrol bersama teman sampai pagi pun lebih terasa menyenangkan.

kota ini begitu tidak cocok dengan saya. Bukan hanya kotanya, tetapi juga kehidupannya. Istilahnya adalah seorang anak punk yang bebas dipaksa untuk tinggal di tengah perkotaan dengan segala macam bentuk peraturan yang mengikat. Yang semua itu mau gak mau harus dilakukan.
Pasti tersiksa rasanya.
Bahkan dibandingkan dengan Solo, sebuah kota kecil di daerah selatan Jawa, kota ini kalah ramai, kalah seru. Di malam hari rasanya bagai kota mati.
Mengingatkan saya pada malam Tahun Baru 2008 dimana saat itu sebelumnya turun hujan deras. Jam 11malam saya keluar untuk coba merasakan keramaian suasana pergantian tahun.
Bahkan hujan tidak bisa menghentikan antusias masyarakat Solo. The S.i.G.I.T. yang menggelar konser di Manahan pun pasti tidak menduga. Crowd yang penuh, penonton yang rela berbecek ria di tengah lapangan yang basah hanya untuk sekedar melompat-lompat mengikuti irama lagu.
Terlintas juga suasana konser Slank terakhir di Alun-alun Utara kota Solo. Suasana yang sama dengan di tahun baru 2008: hujan, becek.
Tetapi apa yang terjadi?? beribu-ribu Slankers dari seluruhy penjuru kota Solo, Klaten, Karanganyar, Sragen bahkan Semarang dan Jogja tampak hadir memenuhi acara tersebut.
Tampak gairah besar yang saya rasakan selama mengikuti semua rangkaian tersebut.
Mungkin ini yang orang-orang sebut “homesick”, pesakitan rumah.
kembali ke topik utama.
gimana sih caranya biar ide itu bisa mengalir dengan lancar? kebuntuan ini kadan menyiksa. ah, lebai nih.
susah banget dapat inspirasi di kota ini.
sebenarnya banyak ide-ide muncul di benak saya. tapi kemudian saya bingung sendiri. bagaimana itu bisa saya tuangkan dalam tuklisan tanpa sebuah data yang bisa disebut, dapat dipercaya.
bukan hanya sebuah celotehan. saya ingin mulai menulis sesuatu yang bisa menjadi sebuah renungan bersama. bermanfaat bukan hanya untuk diri saya. tetapi juga bagi orang lain.
semoga itu bisa tercapai ke depannya. semoga ide-ide untuk menulis bisa terus hadir di benak saya.

dan dari semua yang saya alami, yang saya lakukan
hanya satu kata yang selalu penting.
“SEMANGAT!!!”



